Pendidikan Meningkat Tapi Pengangguran Tak Surut, Dr Bukhari Sebut Krisis Moral Negara
Dr. Bukhari, M.H., C.M
Penulis
Bacaan 2 Menit
18 April 2025
ULASAN LENGKAP
“Ini bukan kesalahan individu. Ini adalah masalah struktural dan kegagalan sistemik. Negara tidak boleh sekadar menyalahkan masyarakat,” tegasnya lagi.
Situasi ini menciptakan realitas yang ironis: semakin banyak masyarakat berpendidikan, namun angka Pengangguran tetap tinggi.
Akademisi IAIN Lhokseumawe, Dr Bukhari MH CM kepada Serambinews.com, Selasa (15/4/2025), mengungkapkan bahwa persoalan ini tidak hanya berdampak secara ekonomi, tapi juga menyentuh ranah sosial dan keagamaan yang lebih dalam.
“Banyak masyarakat kita hari ini yang sudah berpendidikan, tapi tetap tidak punya pekerjaan. Lalu bagaimana dengan mereka yang tak punya ijazah atau keterampilan formal?” ujar Dr Bukhari.
Ia menegaskan, kegagalan negara dalam menciptakan lapangan kerja secara tidak langsung juga mengancam stabilitas rumah tangga dan bahkan pelaksanaan nilai-nilai syariat Islam.
Dalam Islam, lanjutnya, menafkahi keluarga adalah kewajiban yang bersifat fardhu bagi seorang suami
Merujuk pada QS Al-Baqarah: 233 dan QS. Ath-Thalaq: 7, Dr Bukhari menyebut bahwa Islam menuntut pemenuhan nafkah sebagai bentuk tanggung jawab utama kepala rumah tangga.
Namun kenyataan hari ini menunjukkan bahwa banyak kepala keluarga tak mampu memenuhi kebutuhan dasar bukan karena malas, tapi karena tidak tersedia ruang kerja yang memadai.
“Ini bukan kesalahan individu. Ini adalah masalah struktural dan kegagalan sistemik. Negara tidak boleh sekadar menyalahkan masyarakat,” tegasnya lagi.
Ia juga menilai kondisi tersebut sebagai bentuk krisis moral negara.
“Jika pemerintah gagal membuka lapangan kerja, maka ini bukan hanya soal ekonomi, tapi pelanggaran terhadap hak dasar masyarakat,” katanya.
Lebih jauh, ia mengaitkan kondisi tersebut dengan maqashid syari’ah, khususnya perlindungan terhadap harta (hifz al-mal) dan jiwa (hifz an-nafs).
Jika kebutuhan dasar masyarakat tidak dipenuhi, maka dua hal tersebut bisa terganggu.
“Banyak rumah tangga hancur karena tekanan ekonomi. Perceraian meningkat, utang menumpuk, bahkan kejahatan bisa terjadi karena lapar,” ungkapnya.
Sebagai solusi, Dr Bukhari mendorong pemerintah untuk berhenti membuat program seremonial.
Ia menekankan pentingnya pengembangan lapangan kerja produktif berbasis potensi lokal, pemberdayaan pesantren sebagai pusat ekonomi umat, dan dukungan riil terhadap UMKM.
“Kita butuh solusi nyata. Pemenuhan nafkah bukan hanya urusan pribadi, tapi tanggung jawab kolektif antara negara, masyarakat, dan agama. Kalau tidak, kita akan terus terjebak dalam krisis ini,”
Artikel lainnya
-
1.
Dr. Bukhari Buka Kuliah Ppkn Di Teknik Industri Pnl Dengan Pesan Kebangsaan
03 September 2025 • 2 menit baca
-
2.
Mari Belajar Dari Mahasiswa Teknik Mesin Politeknik Lhokseumawe: Pancasila Bukan Sekadar Teks
16 July 2025 • 3 menit baca
-
3.
Ujian Pendidikan Pancasila Mahasiswa Teknik Mesin: Antara Nilai, Nalar, Dan Inovasi
15 July 2025 • 2 menit baca
-
4.
Kuliah S2 Bukan Mimpi: Uin Suna Lhokseumawe, Tempat Ilmu Bertemu Nurani.
05 July 2025 • 2 menit baca
-
5.
Dari Kelas Ke Kehidupan: Mengaktualkan Nilai-nilai Hukum Perkawinan Islam Dalam Masyarakat Muslim Indonesia
30 June 2025 • 3 menit baca