Mari Belajar dari Mahasiswa Teknik Mesin Politeknik Lhokseumawe: Pancasila Bukan Sekadar Teks
Dr. Bukhari, M.H., C.M
Penulis
Bacaan 3 Menit
16 July 2025
ULASAN LENGKAP
Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, tak sedikit generasi muda yang menganggap Pancasila hanya sekadar dokumen formal negara. Dibaca saat upacara, dihafal saat ujian, lalu dilupakan dalam praktik. Namun siapa sangka, dari ruang kuliah Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe, semangat untuk menghidupkan Pancasila sebagai nilai kerja dan nilai.
Hidup justru tumbuh dengan gagah.
Saya menyaksikannya sendiri saat memandu Ujian Akhir Semester mata kuliah Pendidikan Pancasila, Rabu 16 Juli 2025 lalu. Ujian yang seharusnya identik dengan tekanan dan hafalan, justru diubah menjadi panggung intelektual dan kebangsaan. Para mahasiswa Teknik Mesin tidak hanya menjawab soal, tetapi juga menganalisis persoalan bangsa, merancang solusi berbasis teknologi, dan merefleksikan nilai-nilai Pancasila dalam dunia manufaktur.
Pancasila dalam Dunia Teknik
Dalam dunia teknik, rekayasa, dan industri, nilai-nilai Pancasila sejatinya sangat relevan. Keadilan sosial (sila ke-5) dapat menjadi landasan dalam mendesain alat yang terjangkau bagi masyarakat kecil. Kemanusiaan (sila ke-2) harus menjadi rambu dalam mengelola limbah pabrik. Gotong royong (sila ke-3) relevan dalam membangun budaya kerja tim yang solid di bengkel atau pabrik.
Ke depan, diharapkan mahasiswa Teknik Mesin mampu terus mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam setiap proses pembelajaran dan praktik. Mereka dapat merancang teknologi tepat guna yang berpihak pada kebutuhan masyarakat, seperti sistem pemurnian air sederhana untuk wilayah terpencil. Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk aktif dalam kampanye digital yang menanamkan semangat kebangsaan di dunia teknik, serta mengembangkan budaya kerja yang menjunjung etika produksi dan kepemimpinan berbasis nilai-nilai luhur bangsa. Dengan begitu, mereka bukan hanya menjadi teknisi andal, tetapi juga agen perubahan yang berkarakter Pancasila..
Dari Hafalan Menuju Internalisasi
Apa yang terjadi di Politeknik Lhokseumawe ini menunjukkan bahwa Pancasila tidak akan hidup jika hanya diajarkan, ia akan hidup ketika diteladankan dan diujikan dalam konteks nyata. Pendidikan Pancasila yang membumi, kontekstual, dan partisipatif adalah kunci membentuk karakter mahasiswa di era industri 4.0 bahkan 5.0.
Mahasiswa teknik, yang kelak akan mengisi dunia industri, harus disiapkan tidak hanya sebagai pencipta teknologi, tetapi juga penjaga nilai-nilai luhur bangsa. Mereka harus berani berkata “tidak” pada produksi yang merusak lingkungan, pada sistem yang eksploitatif, dan pada kerja yang tidak manusiawi.
Ajakan untuk Kampus Lain
Sudah saatnya kampus-kampus lain mencontoh pendekatan seperti ini. Jangan hanya menguji mahasiswa dengan pilihan ganda dan hafalan sila, tetapi ajak mereka menghidupkan Pancasila dalam proyek, inovasi, dan diskusi nyata. Karena hanya dengan cara itu, Pancasila tidak akan sekadar jadi teks. Ia akan menjadi sikap.
Mari belajar dari mahasiswa Teknik Mesin Politeknik Lhokseumawe. Mereka membuktikan bahwa Pancasila bukan untuk dihafal, tapi untuk dikerjakan.
Penulis adalah Dosen Pengasuh MK Pendidikan Pancasila Tekhnik Mesin Politeknik Negeri Lhokseumawe dan Konsultan Hukum/Advokat
Artikel lainnya
-
1.
Dr. Bukhari Buka Kuliah Ppkn Di Teknik Industri Pnl Dengan Pesan Kebangsaan
03 September 2025 • 2 menit baca
-
2.
Ujian Pendidikan Pancasila Mahasiswa Teknik Mesin: Antara Nilai, Nalar, Dan Inovasi
15 July 2025 • 2 menit baca
-
3.
Kuliah S2 Bukan Mimpi: Uin Suna Lhokseumawe, Tempat Ilmu Bertemu Nurani.
05 July 2025 • 2 menit baca
-
4.
Dari Kelas Ke Kehidupan: Mengaktualkan Nilai-nilai Hukum Perkawinan Islam Dalam Masyarakat Muslim Indonesia
30 June 2025 • 3 menit baca
-
5.
Hidupmu Bukan Milik Mereka – Dr. Bukhari, M.h., Cm
20 April 2025 • 2 menit baca